Search
image

Pondok Pesantren Putra Kebon Jambu Cirebon

 

5.0/51 Reviews

KH MUHAMMAD

KELAHIRAN

KH. Muhamad atau yang kerap disapa dengan panggilan Akang lahir pada tanggal 08 April 1951 di kampung Karang Anyar desa Winduhaji Kabupaten Kuningan. Beliau merupakan putra dari pasangan Bapak H. Aminta dan Ibu Hj. Tsani Rohimahumallah.

WAFAT

KH. Muhamad wafat pada tanggal 1 November 2006. Jenazah beliau dimakamkan di depan Masjid Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy.

Setelah kepergian sang suami, tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu dipegang oleh istri beliau Nyai Hj. Masriyah Amva.

Disamping itu, dibentuklah Dewan Pengasuh yang dipimin oleh KH. Asror Muhamad (putra ke-2) dan beranggotakan KH. Syafi’i Atsmari (menantu), KH. Syamsul Ma’arif (menantu), dan KH. Muhyiddin untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren dengan dibantu MPP (Majlis Pembimbing Pesantren) yang beranggotakan para alumni yang tinggal di sekitar pesantren.

KELUARGA

Selama menuntut ilmu di Pesantren, sikap dan keilmuan KH. Muhamad menarik hati gurunya, KH. Muhamad Sanusi, sehingga pada tahun 1973 dan bersamaan dengan memangku jabatan sebagai kepala pondok At-Taqwa, KH. Muhamad dinikahkan dengan Nyai Hj. Nadziroh binti K. Dahlan, keponakan Kiai Sanusi.

Buah dari pernikahanya, beliau dikarunia 6 orang putra putri. Anak-anak beliau diantaranya: Nyai. Hj. Mariyatul Qibtiyah menikah dengan KH. Syafi’i Atsmari, KH. Asror Muhamad menikah dengan Nyai. HJ. Awanillah Amva, Nyai. Siti Aisyah, Hj. Siti Maryam, Hasan Rahmat dan Siti Fatimah (Alm).

Pada tahun 1992, duka kembali menyambangi KH. Muhamad dan keluarga pesantren, dimana Nyai Nadziroh wafat.

Tak berlangsung lama, Allah SWT memberikan penggantinya sebab pada tahun 1993, KH. Muhamad menikahi Nyai. Hj. Masriyah Amva binti KH. Amrin Hanan, seorang janda yang mempunyai dua putra. Anak beliau diantranya Robith Hasymi dan Moh. Ibdal.

PENDIDIKAN

Pada usia 10 tahun, KH. Muhamad memulai pendidikannya dengan mengaji kepada Kiai Samud, seorang alim di lingkungan desanya sendiri. Selanjutnya pada saat menginjak usia remaja, dalam benak KH. Muhamad timbul keinginan untuk melanjutkan belajar keluar daerah dengan tujuan untuk memperkaya ilmu keagamaan keinginan mulia itu pun disampaikan kepada sang gurunya.

Setelah mendiskusikannya dengan orang tua KH. Muhamad, sang guru menunjukkan pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon sebagai tempat melanjutkan pendidikan ke pesantrennya. Saat itu, beliau belajar di Pondok Roudhatut Tholibin (Pondok Gede) yang diasuh oleh KH. Amin Sepuh dan KH. Muhamad Sanusi yang juga berasal dari Winduhaji.

MENJADI PENGASUH PESANTREN

Satu tahun kemudian, yaiu pada tahun 1974 Kiai Sanusi wafat, oleh karena itu sepeninggal gurunya, beliau meneruskan perjuangan sang guru dalam mengajarkan ilmu agama sebagaimana telah diamanatinya.

Atas perintah keluarga besar Kiai Sanusi, pada tahun 1975,  Kiai Muhamad merintis dan mendirikan Pondok Kebon Melati dengan jumlah santri sekitar dua puluhan mayoritas usianya hampir seumur dengan beliau.

Di bawah kepemimpinan KH. Muhamad, pesantren tersebut mengalami perkembangan yang signifikan. Setiap tahun jumlah santri semakin bertambah, Awal hingga pertengahan tahun 1990-an, jumlah santri keseluruhan mencapai seribu santri.

Pada masa selanjutnya, pesantren tersebut mengalami hambatan dan tantangan karena jumlah santri sudah sangat banyak yakni 925 orang, namun fasilitas yang dimiliki masih sangat terbatas. Sehingga pada tanggal 7 November 1993, KH. Muhamad bersama istri dan para santri memilih untuk mengembangkan dan pindah ke Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, di tanah wakaf dari keluarga KH. Amrin Hanan, ayahanda Ny. Masriyah.

TELADAN

KH. Muhamad selama hidupnya dikenal sebagai pribadi yang ulet, pintar, bersahaja dan tegas.

Saya merasa tidak pede berdiri di sini, saya ini orang kampung dan tidak mengerti apa-apa. Saya teringat Ibu Bapak saya, yang melahirkan anak-anak, perempuan lagi, perempuan lagi, terus perempuan lagi. Ibu bapak saya pernah berkata: tidak apa-apa kita punya perempuan yang penting mereka bisa  memberi manfaat seperti laki-laki. Kalimat ini selalu didengungkan di telinga saya waktu itu masih kecil. Sehingga saya dewasa, berangkat ke pesantren, saya punya cita-cita untuk menjadi ulama perempuan. Tetapi sayangnya cita-cita ini kandas ketika saya dipaksa kawin ketika masih belajar di Pesantren. Belum pintar tapi sudah dipaksa kawin. Jadi belum matang. Tetapi rupanya Allah Maha Mendengar bisikan ibu bapak saya. Saat ini, setelah saya mengalami proses panjang, Alhamdulillah, mungkin karena Kongres ini, saya telah dipertemukan sebelumnya dengan para pejuang, para kyai, para perempuan hebat, yang menempa saya, mendorong saya, terutama guru saya KH Husein Muhammad, sehingga akhirnya bisa beridiri di depan ini.

1 Review for Pondok Pesantren Putra Kebon Jambu Cirebon

Pendidikan Berbasis Adab dan Holistik di Pondok Pesantren: Integrasi Keterampilan, Etika, dan Pengembangan Bakat
5.0.0

Salah satu hal yang paling kami hargai dari pondok pesantren ini adalah fokusnya pada pendidikan berbasis adab. Keterampilan dan pengetahuan agama yang diajarkan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga terintegrasi dengan nilai-nilai etika dan moral. Inisiatif untuk mengembangkan minat dan bakat santri adalah tambahan positif yang menunjukkan perhatian pada perkembangan holistik setiap individu.

Was this review ...? Interesting 0 LOL 0 Love 0
image